Senin, 07 Oktober 2013

[FF-YunJae] PG-NC/Yaoi/BROTHER (ANGEL)/Chapter 1

Title :  Brother (Angel)

Author : Minhyan-ssi


Pairing : Yunjae


Legh : 1 of ?


Ratting : PG-17 for now


Genre : Drama – Angst – Yaoi – Mpreg – Family – NC (ditunggu saja)


Cast :

- Jung Yunho
- Kim Jaejoong
- Kim Junsu
-Etc

FF terinspirasi dari film My sister keeper… mungkin ada yang udah nonton?? But, tetep aku buat ala Yunjae

So, Happy reading all. . .


# # # #

P.O.V Jaejoong

Kebanyakan orang terlahir karena keinginan dan cinta diantara kedua orangtuanya. Orangtua mereka saling mencintai, kemudian melakukan sesuatu yang sering disebut dangan sex. Sperma ayahnya akan dan membuahi ke indung telur sang ibu. Lalu kan membentuk sebuah janin. Disaat yang hampir sama, roh-roh sedang berkeliaran diangkasa sebari mencari tempat (tubuh) utuk mereka menjalani hidup di dunia ini.

Saat usia mereka ke 9 bulan, mereka akan dikeluarkan dari perut sang ibu. Saat itu orang-orang yang mengasihi dan mencintai ibu tersebut akan bersorak – bergembira menyambut bayi itu.

Ah, beruntung sekali sekali bayi-bayi itu. Aku benar-benar iri.

20 tahun yang lalu, kedua orangtuaku benar-benar panik saat mendengar diaknosa dokter jika kakakku Kim Junsu menderita Leukimia. Singkat cerita, mereka dan dokter seperti kehabisan akal untuk menyelamatkan kakakku. Namun dokter itu memiliki satu cara, namun hal tersebut melanggar hak kemanusiaan. Namun dengan alasan kedua orangtuaku tak ingin kehilangan Junsu, lantas mereka memaksa dokter itu memberitahukan cara tersebut.

Singkatnya lagi, kedua orangtuaku melakukan program bayi tabung untuk menyelamatkan Junsu. Karena bayi tabung dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga pada nantinya ginjal bayi tabung dan beberapa organ lain tersebut akan cocok untuk di donorkan pada kakakku Junsu.

Dan bayi tabung itu adalah aku Kim Jaejoong.

Dan bisa dibilang Kim Jaejoong adalah milik Kim Junsu. Karena aku dibuat untuk menyelamatkan Junsu. Tubuhku ini akan menjadi milik Kim Junsu. Aku bahkan tidak memiliki kuasa terhadap tubuhku sendiri. Salahku juga, kenapa aku memilih tubuh ini untuk menjalani hidup di dunia ini??? Seharusnya aku tetap beterbangan saja di luar angkasa sana, tanpa harus menjalani hidup yang kejam yang bahkan tak kumengerti artinya.

“Akh!” rintihku. Tidak hanya Junsu saja, akupun juga merasakan sakit saat jarum besar dokter menusuk tubuhku untuk diambil beberapa bagian dari tubuhku untuk diberikan pada Junsu.

“Akhhh….” Rintihku kembali. Aku tak tahan lagi dengan rasa sakit ini.

Dengan masih melihat ke ranjang Junsu yang disebelahku, dan di kerumuni ayah, ibu, kerabat dan dokter. Tubuhku kembali harus terkulai di atas ranjang. Aku menangis sedikit tertahan. Percuma juga aku mengeraskan suara tagisanku, tak ada yang peduli.  Rasa sakit Junsu lebih membuat khawatir keluargaku. Aku mengeluh, merintis dan menangis, hanya  diriku sendiri yang mendengarnya.

P.O.V Author

“Yak!” seru Jung Yunho, dokter muda yang baru dua bulan resmi bekerja dan merupakan anak dari dokter yang menangani Junsu dan yang menyarankan cara bayi tabung pada kedua orangtua Junsu dan Jaejoong, untuk menyelamatkan Junsu.

Sejenak Yunho melihat pada Junsu yang dikerumuni keluarganya. Diam-diam ia mengepal geram.Bagaimana mungkin mereka dapat setega itu pada Jaejoong yang juga merintih kesakitan disebelah mereka. Dan tanpa banyak bicara Yunho segera menangani Jaejoong yang nyaris kehilangan kesadaran karena kesakitan.

# # #  # # #

“Joongie, makanlah ini.” Junsu dengan ceria mengambil dan menaruh ayam goreng di piring Jaejoong.

Jaejoong tersenyum pada Junsu. Ia tahu Junsu begitu menyayanginya dan ia pun menyayangi Junsu sebagai kakaknya, meski kenyataannya ia menderita selama ini karena Junsu.

“Kau harus banyak makan makanan yang bergizi dan kau harus menjaga kesehatanmu, Arasso?”

“Aku tahu itu, Eomma.” Jaejoong menjawab singkat. Di dalam, yang sebenarnya hati Jaejoong hancur. Untuk siapa perhatian ibunya barusan? Bukan untuk dirinya,namun Junsu. Ia tidak boleh sakit karena akan merugikan Junsu. Ia jadi tak dapat mendonorkan bagian tubuhnya kepada Junsu (saat Junsu membutuhkannya)  jika ia sakit.

Disini ia juga manusia, ia juga anak Tuan dan Nyonya Kim, sama seperti Junsu. Jaejoong  juga ingin merasakan cinta yang sebenarnya. Diperlakukan layaknya manusia, bukan obat hidup.

“Joongie, maukah nanti sore kau menemaniku chek-up?” Junsu menawarkan. Justru selama ini Junsulah yang menganggapnya layaknya manusia yang butuh cinta.

“Joongie masih 18 tahun, tidak bisa menjagamu kalau kalian hanya pergi berdua,” sahut Nyonya Kim.

“Tapi Junsu ingin pergi dengan Joongie. Dan satu lagi, Jaejoong sudah 17 tahun ke atas, dia sudah dewasa.” Junsu tetap dengan pendapatnya.

“Kau akan pergi dengan Eomma,” nyonya Kim juga tidak mau mengalah.

Sret~

Jaejoong mengiterupsi. Ia menggeser kursinya dan lantas berdiri.

“Aku berangkat sekarang. Aku ada kegiatan sekolah sampai malam. Mianhae aku tak bisa menemanimu, hyung.” Jaejoong dengan wajah dingin dan datar membungkuk pada Junsu.

“Joongie-ah, tidak bisakah kau bolos acara sekolahmu itu?” tanya Junsu pada Jaejoong. Ia benar-benar ingin pergi berdua saja dengan Jaejoong. Ia bosan juga kemana-kemana hanya bersama para orang dewasa. Sesekali ia juga ingin pergi dengan sebayanya – bercerita banyak tentang masa muda mereka.

“Aku minta maaf, Hyung.” Jaejoong menyambar begitu saja tas sekolahnya, dan lalu beranjak pergi dari rumah tersebut.

# # # # # # #

P.O.V Jaejoong

“Kim jaejoong….”

“Jaejoong oppa….”

“Oppa….”

Begitu banyak orang-orang yang meneriakkan namaku disini. Mereka mengagumiku, tapi ibu selalu melarangku untuk membalas kekaguman mereka. Orangtuaku, hanya ingin aku fokus menjaga tubuhku.

Dulu, untuk dapat bersekolah aku harus merengek dan sengaja membandel agar mereka menurutiku untuk hal ini. Hukuman tidur di gudang selama seminggu, aku bersedia menjalaninya hanya demi dapat bersekolah. Karena hanya di sekolah, aku merasa sebagai manusia yang sebenarnya.

“Yak! ketua kelas! Kenapa baru datang jam segini? Apa kau lupa kau harus mengumpulkan PR kami pada Guru Kang sebelum monster itu datang? Huh?!” Minho mengeluh padaku. Tapi aku senang, karena di sekolah ada yang menunggu kedatanganku.

Aku melepaskan headset-ku yang kupakai sejak menaiki bus tadi.

“Akan ku kumpulkan sekarang.” Jawabku lalu berlalu dari hadapan Minho untuk melakukan tugasku.


# # # # #

P.O.V Author

Yunho mengeluh dalam hati. Ia seolah lelah dan habis kesabaran berhadapan dengan adik perempuannya yang menurutnya hyper-aktif . Bagaimana tidak, saat ini dirinya benar-benar sangat malu karena adiknya itu menarik-nariknya di tengah sekolah begini untuk bertemu seseorang yang adiknya sukai. Dalam benak Jung Jihye – adik Yunho tersebut, SMA ini adalah milik kakeknya, jadi tidak masalah jika Yunho juga ‘berkeliaran’ di sekolahnya ini.

Ommo….” Seru beberapa siswi yang melihat kagum pada Yunho. Siapa wanita atau bahkan pria yang tidak akanterperangah pada sosok tampan, gagah terlebih berpakaian dokter seperti Jung Yunho.

“Aish, kau benar-banar membuat oppa malu,” keluh Yunho pada Jihye.

“Biarkan saja. Yang penting oppa harus bertemu pangeranku secepatnya dan oppa merestui kami berpacaran.” Jinhye menjawab dengan seenaknya.

“Aish.” Demi Tuhan, jika Jihye bukan adiknya, saat ini ia akan melempar jauh gadis remaja yang satu ini.

Buk~

“Awww,” seru Yunho, karena tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya. Dan beberapa buku yang dibawa orang tersebut pun berserakan.

“Jaejoong oppa…!” teriak Jihye girang. Ia tanpa banyak bicara langsung saja memeluk lengan Jaejoong  yang  tak berkata apapun.

“Oppa, kau tahu dimana Changmin berada sekarang?” tanya Jihye. Yeah, adik perempuan Yunho ini memang berwatak ceria. Ia hampir tak pernah canggung pada siapapun, bahkan orang yang baru dikenalnya, juga namja yang dingin seperti Kim Jaejoong. Ia tak pernah peduli Jaejoong mengacuhkanya, ia hanya sedang menjadi dirinya sendiri. Dan itu lebih menyenangkan.

Jaejoong masih tak menjawab. Ia hanya menolehkan kepalanya ke belakang. Disana, Changmin nampak kesulitan membawa  setumpuk buku. Changmin adalah sahabat sekaligus wakil ketua kelas. Tidak salah jika Changmin membantu tugas Jaejoong membawa PR teman-teman sekelasnya ke kantor guru, dan sangat tepat jika bertanya tentang Changmin kepada Jaejoong.

“Jaejoong Oppa, kau yang terbaik” Jinhye memelankan suara – nyaris berbisik pada Jaejoong. Ia lalu bangkit dan menuju pada Changmin.

“Yaaak…!” protes Yunho merasa dicampakan begitu saja oleh adiknya. Bukankah Jihye yang bersikeras membawanya bertemu namja idolanya. Namun kenapa malah ia ditinggalkan begitu saja, sementara Jihye disana sangat aktif menganggu Changmin.

Buk~
Jaejoong menjatuhkan lagi buku-buku yang baru  dikumpulkannya, membuat Yunho langsung tersadar dengan posisinya.

Ommo… mianhae, Kim Jaejoong. Aku akan membantumu mengantarkan buku-buku ini.” Cetus Yunho. Dan membuat Jaejoong langsung berhenti memunguti buku-buku tadi. Ia jadi melihat pada Yunho serius.

“Kau tahu aku?” tanya Jaejoong.

Yunho pun lantas menghentikan juga aktifitasnya – memunguti buku tadi. Ia balas melihat pada Jaejoong.

“Kau tak ingat padaku?” Yunho malah balik bertanya.

Jaejoong agak menyeritkan dahi.

“Sepertinya benar, kau tak ingat padaku.” Yunho berkata yang masih membuat Jaejoong bertanya-tanya.

Jaejoong  kemudian tak menanggapi Yunho lagi. Ia tidak peduli, ia sangat malas menanggapi hal yang betele-tele seperti ini. Jaejoong semakin bergegas mengumpulkan buku-buku yang berserakan. Sebelum berdiri, ia mengambil begitu saja beberapa buku yang di tangan Yunho. Tentu saja membuat Yunho terhenyak, meski sesaat saja.

“Aku permisi,” Jaejoong membungkukkan badan pada Yunho.

“Apa punggungmu sudah tak sakit lagi?” tanya Yunho seraya berdiri. Yang membuat langkah Jaejoong terhenti. Ia kembali berbalik melihat pada Yunho.

Demi Tuhan, tidak seorang pun kecuali keluarga Jaejoong yang mengetahui permasalahan dalam keluarga Kim. Termasuk Jaejoong yang kemarin baru mendonorkan bagian dari tubuhnya untuk Junsu.

“Aku Jung Yunho, ayahku adalah dokter Jung – dokternya Junsu. Aku yang menanganimu saat kau kesakitan kemarin.” Yunho pada ahirnya menjelaskan.

# # # # #

Seoul, 8 tahun yang lalu

“Tidak! Aku tidak mau. Jaejoong itu adikku!” teriak Junsu pada kedua orangtuanya.

“Itu benar. Tapi dia dilahirkan untuk menyembuhkanmu,” Nyonya Kim menjelaskan pada Junsu dengan pelan-pelan. Ia tak mau menanggapi Junsu yang emosi dengan emosi juga. Yang malah akan membuat suasana bertambah rumit.

“Jaejoong dilahirkan juga untuk kalian bunuh!” Junsu berkata lagi, kali ini dengan meneteskan airmatanya.

“Kamu salah, Suie. Mendonorkan satu ginjalnya, tidak akan membuat Jaejoong mati.”

“Tapi bagaimana jika bukan hanya satu  ginjalku yang rusak? Tapi keduanya? Jaejoong akan mati! Aku sudah ikhlas kalau harus mati muda karena penyakit ini. Aku sudah rela, Eomma… Appa…. Jadi tolong, berhentilah untuk mengorbankan Jaejoong demi aku. Biarkan aku pergi…” Junsu bersujud memohon.

“Tidak! Kami tidak rela kau mati, Junsu! Kami menyayangimu….”

“Lantas bagaimana jika  Jaejoong yang mati. Apa kalian merelakannya?” Junsu bertanya kembali, masih dengan airmata yang mengalir deras.

Tuan  dan Nyonya Kim terdiam dengan pertnyaan Junsu kali ini. Entah kenapa.


Seoul, back to 2013



Suara dentuman keras lagu Rising Sun milik TVXQ menggema, mengiringi dance enerjik seorang namja cantik dan teman-temannya. Tepuk tangan serta teriakan riuh mendukung kelompok dancer yang sedang battle dengan kelompok dancer lain.

“Kim Jaejoong!”

“Kim Jaejoong!”

Teriak para penonton.

Yeah, Jaejoong adalah dancer namja yang berwajah cantik tadi. Meski namanya diteriakkan banyak orang disini, tak sedikitpun membuat raut wajah Jaejoong berubah senang, bangga atau ekspresi kegembiraan lainnya. Junstru ia nampak sangat marah.

Pembicaraan antara Junsu dan kedua orangtuanya 8 tahun yang lalu, ia mendengar semua. Saat itu Jaejoong diam-diam menguping dari balik pintu. Dan peristiwa tersebut hampir setiap saat menganggu di benak namja cantik tersebut.

Jaejoong marah setiap kali mengingat hal itu. Namun ia tak pernah mendapat kesempatan untuk melampiaskannya. Dan menari seperti  inilah yang  dapat membantunya mereduksi ketegangan emosinya.

Waiting for Rising Sun…..

Dan gerakan dance Jaejoong semakin menggila…

Namun Jaejoong tak menyadari jika seseorang diantara para penonton sedang memperhatikannya dengan serius dan agak terkejut.

~TBC~

Ottoke?? Sukakah dengan FF yang ini??
Part 1 ini memang belum nampak konflik-konfliknya, anggap saja hanya perkenalan







Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar