Senin, 30 Juli 2012

[2Shoot] FF - YunJae | Yaoi | PG-17 | ¤-MORE-¤ | Chapter 1

·

Title : More



Author : Minhyan-ssi



Pairing : Yunjae



Legh : 1 of 2



Ratting : PG-17



Genre : Drama - Fluff - Romance - Yaoi





Cast : - Jung Yunho - Kim Jaejoong - Etc



Ini terinspiraasi dari sebuah novel yg seb. Islami tp tak buat versi Yunjae. Maaf yang besar ku ucap kusus buat penulisnya. Dan ini HAMPIR MIRIP DENGAN ASLINYA, ga semeuanya mirip. OK, terserah lah mau bilang plagiat atau apa, yang penting ane udah terus terang ya.



Happy reading all. . .



>>>

P.O.V Author

Siapakah yang tidak mau hidup tanpa cinta? Semua orang tentu menginginkan hidupnya dipenuhi cinta, mewujudkannya dan melepaskan hasrat cinta itu dalam sebuah ikatan dalamyang disebut pernikahan. Kenyataan itu membuat hati Jaejoong teriris pilu. Kenyataan lagi itu hanya ada dalam angannya – ia tidak akan bisa saperti itu.



Email dari ayahnya beberapa hari lalu mengubur impian yang selama ini susah apyah Jaejoong bangun. Setelah wisuda universitas besok ia harus kembali ke Busan dan menikah dengan Choi Siwon – anak keluarga Choi yang kaya raya di Busan. Andai calonnya itu bukan Choi Siwon, andai orang itu bukan dari keluarga Choi, mungkin Jaejoong tak akan sepuruk ini. Ayah Jaejoong terlilit hutang selama bertahun-tahun dengan keluarga Choi – yang juga seorang rentenir dan belum bisa melunasinya sampai sekarang. Mrs.Choi pada ahirnya mengambil jalan tengah yaitu Jaejoong harus menjadi istri dari anak tertuanya.



Juga karena Jaejoong tahu betul watak Choi Siwon, namja itu tak lebih dari seorang pria yang picik. Namja itu pernah menghamili teman Jaejoong dan tidak bertanggung jawab, sedang Jaejoong sendiri nyaris dinodainya ketika SMP. Ya, dulu Jaejoong dan Siwon satu sekolah sampai SMP.



Jaejoong kini bagai terjebak ditengah buaya-buaya rakus, kesudut mana saja ia melangkah tidak bisa selamat. Jika ia menolak hal itu, keluarga pasti dalam bahaya. Jika menerima? Ia bagaikan orang bodoh yang dengan sukarela menceburkan diri ke neraka. Yeah, neraka dunia.



“Jongie….”



Tepukan di pundaknya membuat Jaejoong menoleh, ia lalu tersenyum tapi terpaksa.



“Yunho Hyung,”ujarnya pada namja tampan yang kini mengambil duduk di sebelahnya. Entah kenapa kerisauan Jaejoong memudar, selalu. Yunho seperti pohon rindang yang meneduhkan hatinya ketika sedang ada masalah. Entahlah.



“Hyung, tidak tidur? Katanya Hyung lelah setelah berjam-jam menempuh perjalanan dari London,” tanya Jaejoong lagi seraya melihat pada Yunho yanh tengah memandangi langit.



“Awalnya iya, tapi begitu melihatmu lelahnya hilang entah kemana,” balas Yunho, tepat sedang merayu Jaeejoong.



Wajah Jaejoong tersa menghangat, ia lalu mencubit pinggang Yunho. Padahal ini bukan pertama kali Yunho mengodanya, bahkan sejak ia masih SMA dulu Yunho suka sekali menggodanya dan sejak itu Jaejoong mulai merasa ada tempat khusus untuk Yunho di hatinya. Tapi jika mengingat Nyonya Jung, memebuat Jaejoong tidak dapat mengungkapkan perasaannya tersebut. Nyonya Jung terlalu berjasa untuknya bahkan sudah seperti ibu kandungnya. Beliau adalah ibu angkat dan teman dekat almarhumah ibu kandungnya. Jaejoong tinggal bersama keluarga Jung sejak SMA dan dibiayai pendidikannya hingga ia sarjana sekarang. Sementara anak satu-asaunya –Jung Yunho menempuh S1 dan S2 di london. Yunho pun baru diwisuda sebulan lalu dan kini menjadi direktur muda Jung Corp. menggantikan ibunya.



“Joongie, bagaimana kabarmu selama aku di London?” tanya Yunho memecah keheningan.



“Sangat bagus. Tidak ada yang menjailiku dan memintaku memasakan sarapan setiap pagi,” balas Jaejoong, membuat Yunho tertawa. Jaejoong jadi ikut tertawa pelan. Yeah itu kebiasaan Yunho sebelum berangkat ke London dulu.Semakin lama tawa keduanya menjadi lepas.



“Hyung, mana oleh-olehku,” Jaejoong menengadahkan tangannya.



“Untukmu sangat spesial, tunggu saja Joongie,” ujar Yunho mengacak rambut Jaejoong, namja cantik itu jadi menngerutu palan.



“Yunho Hyung! Kau merusak rambutku!”



“Hahaha.”



-------



Lagi-lagi air mata tidak amu berhenti dari turun dari sudut mata indah Jaejoong. Dan ini menjadi kebiasaan paginya di beberapa hari terahir ini. Ia terus memandangi pisau yang kini sedang ia gunakan untuk memotong sayuran untuk di masak. Ia tersenyum getir, rasanya ia mendengarkan betul bisikan setan sebelah kirinya. Pisau ini bisa meneyelesaikan masalahku. Kematian memang menakutkan tapi terkadang juga menjadi solusi permalasan, dan sebagian orang telah mengambil jalan itu. Masalah surga atau neraka tidak penting lagi, yang paling penting masalah dunia selesai. Dan haruskah ia mengambil jalan seperti orang-orang itu? Jaejoong bertanya pada dirinya sendiri. Ia memang lebih memlih mati dari pada harus menikah dengan seorang bajingan. Sepanjang hidup menjadi tekanan batin dan ‘korban pemerkosaan’.



Jaejoong menghentikan memotong sayurannya. Perlahan ia jadi mengarahkan pisaunya pada nadi sebelah kirinya. Tangisnya pecah dan air maatanya semakin deras mengalir.



“JOONGIE, APA YANG KAU LAKUKAN!” teriak Yunho. Tadi ia bermaksud menggoda Jaejoong yang sedang memasak, tapi malah ia mendapati Jaejoong nyaris berbuat hal yang fatal. Yunho segera merebut pisau itu dan membuangnya.



“KENEPA KAU MEMBUANGYA, HYUNG! KENAPA! SEHARUSNYA KAU MEMBIARKANKU MATI SAJA!” teriak Jaejoong histeris, terus menarik piayama tidur Yunho.



“APA KAU SUDAH GILA INGIN BUNUH DIRI!” Yunho berteriak pula. Emosinya tersulut begitu cepat saat melihat Jaejoong hendak bunuh diri barusan.



“YA, AKU SUDAH GILA HYUNG! JADI BIARKAN AKU MATI!” Jaejoong hendak mengambil pisau itu lagi yang tergelak di lantai, tapi Yunho terus menghalanginya.



“KIM JAEJOONG!”



Jaejoong tidak bergeming dengan teriakan Yunho, ia malah semakin kasar memberontak. Pikiran Jaejoong sangat kacau, akal sehatnya seolah tidak bekerja lagi. Yang dibenaknya kini hanya ia ingin mati dan mati. Yunho semakin kualahan, terpaksa ia memukul belakang belekang Jaejoong hingga nyaris namja cantik itu pingsan.



------



Jaejoong menoleh ke samping saat bahunya tersentuh sesuatu yang yang. Ia tersenyum muram pada Yunho yanh lalu duduk di sebelahnya.



“Tak kusangka orang yang berpendidikan sepertimu ternyata pikirannya sependek itu,” kata sambil Yunho menyeruput the yang baru dibuatnya. Sesaat lalu Jaejoong bercerita semuanya – tentang perjodohannya dan hutang ayahnya.



“Terserah Hyung bilang apa. Yang jelas lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan bajingan itu.” Jaejoong menaruh cangkirnya ke meja agak keras. Ia ingin Yunho tahu kalau hatinya sedang tidak baik-baik saja.



Yunho bergeser duduk mendekati Jaejoong, ia merangkul pundak Jaejoong seraya menepuk-nepuknya pelan. Jaejoong melirik sedikit. Perasaanya kesal bercampur senang – Yunho memeperhatikannya sedemikian rupa tapi Yunho juga mengacaukannya lari dari masalah. Bayang-bayang rumah tangga neraka melintasi benak Jaejoong lagi, dan ahirnya membuat namja cantik itu menangis untuk yang pertama kali di depan Yunho. Awalnya Yunho agak kaget, ternyata selama ini ia tidak memahami Jaejoong dengan sangat baik. Ia baru tahu kalau Jaejoong sesensitif ini. Tangan kangan kanan Yunho perlahan terulur untuk ikut memeluk – membawa Jaejoong dalam pelukannya – membiarkannya menagis dalam dekapannya.

Dan Jaejoong menegis di sana sampai ia bener-benar tenang.



------



“Kalau ada yang mudah kenepa harus kau buat pusing, Joongie,” ujar Yunho.



Jaejoong melihat pada Yunho serius. Ia tidak mengerti sebenarnya Yunho serius peduli atau hanya sekedar basa-basi saja. Masalah serumit ini dia bilang mudah? Gila.



“Katakan padaku berapa hutang ayahmu,” Yunho memeperjelas.



“Yunho Hyung! Sekarang bukan waktunya untuknya bercanda,” Jaejoong berkata dengan nada kesal sekali. Namja ini bener-benar tidak peduli dengannya. Jaejoong berdiri dan hendak beranjak dari tapi Yunho menahannya dengan menarik tangannya. Entah disengaja Yunho atau tidak, Jaejoong terjatuh dan terduduk di pangkuan Yunho.



Deg~

Jantung Jaejoong berdetak menggila, pertama kalinya ia dapat menatap wajah Yunho dengan jarak yang sangat dekat. Yunho tersenyum agak nakal, perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan Jaejoong. Reflek Jaejoong memejamkan matanya. Apaka Yunhoingin menciumnya? Jaejoong medadak jadi gugup sendiri. Tubuhnya tersa terkunci –ingin mengelak tapi ia juga ingin merasakannya.



“Kau menegantuk, Joongie, kenapa kau memejamkan mata.” Yunho berbisik di telinga Jaejoong.



Blam~

Damn. Jaejoong mengumpat dalam hati. Ia memebuka mata dan mendorong Yunho. Ia lantas bangkit dan terus merutuki kebodohanya. Ia ia bisa melupakannya. Buknkah Yunhomemang senang sekali mengerjainya? Damn. Damn.



“Sebaiknya aku pergi. Bersama Hyung malah membuat pikiranku bertambah kacau. Kau sangat menyebalakan, Tuan Jung.” Jaejoong berkata agak menggertak. Ia lalu pergi dari hadapan Yunho.



Brak~

“Hahaha. Kau tak pernah berubah, Joongie. Tetap saja menggemaskan kalau sedang marah,” kata Yunho setelah Jaejoong menghilang dalam kamarnya.



------



Sinar yang begitu silau memaksa mata Jaejoong yang sebenarnya masih ingin menutup, terpaksa terbuka. Ia merenggangkan otot-ototnya seperti biasa. Taoi tiba-tiba tangannya tak senegaja menyentuh sesuatu di bantal sampingnya. Jaejoong menoleh, ia menaikkan sebelah alisnya. Sebuah map? Dengan agak ragu Jaejong membukanya. Mata indahnya seketika terbelalak tidak percaya. Benarkah yang tertulis di dokumrn ini nyata? Hutang ayahnya lunas? Bahkan di bayar dua kali lipat? Ini sangat gila.



Jaejoong tampak berpikir . Yunho kah yang melakukannya?



“YUNHO HYUNG…!”



-----



Buk~



“Yunho Hyung, kau berlebihan.” Jaejoong melemparkan map tadi ke wajah Yunho, tentu saja membuat yang tengah fokus menonton televisi jadi tergagap kaget.



“Joongie, ada apa? Kenepa kau melemparkan map ini padaku, huh!” protes Yunho. Tampak agak kesal.



“Hyung jangan pura-pura bodoh. Hyung kan yang melunasi hutang Appa-ku?” tanya Jaejoong to the poin. Ia lalu menjatuhkan pantatnya di sebelah Yunho. Ia tidak mengerti dirinya pagi ini. Bukankah seharusnya ia senang masalah besar yang menghantuinya belakangan ini telah selesai? Dan Ia juga tak perlu melupakan untuk mencintai Yunho. Seharusnya ia berterima kasih pada Yunho, bukan marah-marah. Entahlah.



“Adikku ini masih sangat pintar ternyata,” ujar Yunho enteng, sambil mengacak rambut Jaejoong.



Jaejoong diam-diam memendangi serius Yunho. Mendadak ia merasakan perih di hatinya. Yunho tetap mengaggapnya sebagai adik, sedang ia telah sejak lama memiliki perasaan yang lebih. Dan apakah berarti cintanya takkan pernah terbalas. Jaejoong tersenyum kecut . Ini sungguh lelucon Tuhan yang menyakitkan. Oh God.



“Joongie, kau masih disitu?” Lambaian tangan Yunho menyadarkan Jaejoong dari kekosongan jiwanya. Ia lalu berpura-pura tersenyum.



“Ya, aku masih di sebelah Hyung. Dan aku tidak pernah bodoh sejak SD. Justru Hyung yang bodoh.”



“Kenapa jadi aku yang bodoh.”



“Ya, Hyung mau saja mebayar hutang appa-ku yang tidak sedikit. Jika di total uangnya bisa untuk beli apartemen yang mewah.”



Yunho mengacak rambut Jaejoong sambil tertawa.



“Jadi kau sungkan padaku, Joongie,” kata Yunho merangkul Jaejoong. “Kau adikku. Mana ada orang yang tega melihat saudanya sendiri menderita, kecuali jika orang itu orang yang bodoh. Lagi pula uang segitu tidak seberapa untuk ku berikan pada adiktercintaku ini.”



Jaejoong terdiam lagi. Ini kenyataan, ia tak lebih dari sekedar adik untuk Yunho.



“Yunho-ah.” Nyonya Jung memanggil, terdengar dari arah dapur.



“Katanya kau akan membeli gaun pernikahan untuk calon istrimu, kenepa kau masih di rumah saja.”



“Iya, Eomma, sebentar lagi.”



Calon istri? Dan memebuat hati Jaejoong yang telah hancur jadi lebih lebur lagi.





~TBC~



Ada yang pernah baca novelnya kira2?



SEKALI LAGI MAAF BUAT PENULISNYA DAN PENGGEMAR NOVEL PENULISNYA.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar